Haryadi Permana berbisnis sekaligus menjadi pelari

0
45
views

PAVIDASK – Berawal dari bisnis menjual jam tangan Garmin dan GPS di tahun 2004, para pelanggannya banyak yang menanyakan pernak-pernik aksesoris seputar outdoor activities/mountenary. Toko spesialis di bidang ini dengan gear lengkap, sebelumnya di Jakarta termasuk jarang. Itulah sebabnya, Haryadi Permana kemudian tertarik melebarkan sayap bisnisnya tak hanya menjual jam tangan Garmin dan Fitbit, tapi juga menyediakan berbagai peralatan outdoor, sports, fitness, run, bike, dan swim. Dia merasa beruntung hobinya berlari, renang, sepeda, dan trekking seiring sejalan dengan bisnis yang digeluti. Berkat kegiatan olahraga tersebut, tubuhnya semakin lebih sehat, tidak cepat lelah, dan lebih proporsional. Mengingat gaya hidup sehat telah menjadi bagian kehidupan dari masyarakat masa ini. Produk yang dijualnya pun tidak terlalu berpengaruh saat krisis moneter terjadi.

MEMPERLUAS BISNIS

Outlet miliknya yang bernama Peebee Sport, juga menyediakan barang franchise untuk apparel dengan brand Kalais dari Cina, busana lari 2XU, peralatan kemping seperti tenda maupun sepatu khusus lari dan naik gunung. “Dalam memilih franchise brand, biasanya saya survei terlebih dahulu ke negaranya langsung untuk mengecek apakah mereknya masuk kategori nomor satu, dua atau tiga. Lalu, kalau dibawa ke Indonesia cocok atau tidak. Jaket untuk udara yang sangat dingin biasanya tidak akan saya ambil, karena sedingin-dinginnya gunung di sini tentunya berbeda dengan di luar negeri. Koleksi summer dan musim semi biasanya yang lebih saya pilih,” paparnya.

Pelebaran tokonya selain Surabaya yang dalam waktu dekat akan dibuka, wilayah Makassar jugaakan dirambahnya. Biasanya di mana ada banyak aktivitas outdoor, daerah tersebut akan dia sasar. Produk sejenis sekarang ini sudah mulai banyak saingan. Namun, setiap brand tentunya memiliki kelebihan masing-masing, itulah yang difokuskan Haryadi saat mempromosikan koleksi barang- barangnya. Berdasarkan pengalaman dan melihat situasi ekonomi di Tanah Air, pria kelahiran 22 Maret 1961 ini cenderung memasukkan beragam produk yang harganya terjangkau. Sehingga, bisa terjual lebih mudah dan dipakai banyak orang.

Meskipun memiliki target market yang lebih spesifik, setiap tahun pangsa pasarnya mengalami pertumbuhan yang positif. “Saya biasanya dibantu review produk oleh para ahlinya. Misalnya, untuk sepatu trail running para juara di bidang ini saya akan endorse untuk memberikan testimoni. Termasuk para pendaki gunung yang jam terbangnya tinggi, misalnya sudah pernah ke gunung Everest atau The Seven Summits of Indonesia. Follower media sosial mereka yang banyak akan membuat sosialisasi produk sampai ke massa yang tepat. Apalagi, kegiatan kemping ataupun glamor camping kini tengah hits menjadi outdoor lifestyle yang digemari. Barang-barang keperluan aktivitas tersebut yang sifatnya timeless telah menjadi keperluan di kalangan yang lebih luas lagi,” jelas pria ini bersemangat.

 

LARI YANG MENDUNIA

Demikian pula dengan kegiatan lomba lari, tadinya hanya diadakan sebulan sekali, sekarang dalam seminggu bisa ada dua atau tiga lomba terjadi, hingga sering bentrok waktunya. “Belum lagi lomba lari

yang kerap dilakukan di berbagai daerah di Tanah Air dan diikuti banyak orang Jakarta. Jadi, bisa dibilang memang tengah booming. Kami pun biasanya ikut mensponsori berbagai kegiatan ini dan meng-endorse para atlet lari,” ujar pengusaha yang juga berprofesi sebagai pelari ini dengan nada bersemangat.

Dulu ajang lomba lari hanya seputar 5K, sekarang sudah lebih bervariasi dan kategori 10K bisa dibilang biasa saja, karena telah ada lari triathlon, trail run, hiking, dan lainnya. Haryadi sendiri adalah orang Indonesia pertama yang berhasil menamatkan Abbott World Marathon Majors atau dikenal sebagai six star finisher yang terdiri dari Tokyo Marathon, Boston Marathon, Berlin Marathon, Chicago Marathon, New York Marathon, dan London Marathon. Ini adalah ibarat ‘Grand Slam’ di dunia lari 42.195 km. Sampai kemudian putranya Kelvin Joandy yang kini ikut terjun membantu bisnisnya pun ikut serta. Ketertarikan dirinya pada travelling dan berpetualangan, membawa mereka rajin mengikuti ajang lari marathon berkelas internasional. Tahun lalu di bulan April, Haryadi pergi berpetualang ke Korea Utara demi ingin merasakan Pyongyang Marathon, salah satu ajang yang paling epik, steril, dan unik di dunia. Ini menjadi pengalaman paling mengesankan baginya dan tiga pelari Indonesia yang berlomba di sana. Mengingat Korea Utara adalah negara yang tertutup, namun, sambutan masyarakat Pyongyang di sepanjang rute begitu hangat.

Agar tetap sehat, itulah yang memacunya rajin mengikuti berbagai kegiatan lomba lari dan
naik gunung, seperti menjelajahi Himalaya dan pegunungan lainnya yang menantang didaki. Melihat adanya pelari dari kalangan eksekutif yang meninggal saat mengikuti lomba. Lulusan dari UNSW Sydney University ini berpendapat, “Saya menyarankan sebaiknya kita tidak harus lari bak seorang atlet dengan record harus bertambah terus. Jadi, kegiatan ini dibuat happy dan dinikmati saja sebagai bagian dari lifestyle yang menyenangkan. Masalah finish atau sebaliknya, ya tidak usah dipaksakan. Kemampuan dan kondisi tubuh harus dijaga. Lalu, ketika mau ada agenda lari, kita harus beristirahat dahulu dengan cukup dan sesudahnya diperlukan juga masa recovery. Biasanya dari satu lomba ke lomba lainnya saya ada jeda minimum satu minggu. Itu pun untuk race pendek dan kalau lebih berat paling sedikit dua minggu.” Sementara, untuk jenis lari marathon minimum satu bulan jedanya untuk mereka yang bukan atlet, mengingat profesi pelari saja bisa cedera, apalagi orang biasa. Itulah sebabnya, suka ada peristiwa orang yang kecelakaan, sakit, atau bahkan tewas, penyebabnya antara lain karena terlalu dipaksakan.

JAM PEDULI KESEHATAN

Seiring dengan perkembangan zaman, sekarang ini sudah ada alat-alat pendukung seperti jam tangan pintar Fitbit yang dibekali sejumlah fitur kebugaran. Mulai dari memonitor detak jantung, menghitung jumlah langkah, kalori yang terbakar, kualitas tidur
dan lainnya, sekaligus sebagai reminder kesehatan sang pemakai. Jika kita diingatkan jam ini bahwa kondisi tubuh sedang tidak sehat, lebih baik kita menghindari kegiatan olahraga seperti lari yang membutuhkan energi dan kondisi tubuh fit atau prima. Saat banyak berdiam diri atau malas berolahraga,

Fitbit juga akan memberikan sinyal kepada kita untuk bergerak atau paling tidak melakukan suatu aktivitas tubuh. “Saya tertarik memasarkan jam ini di Tanah Air, karena kegunaannya tak hanya untuk menunjukkan waktu saja. Tapi, juga memiliki manfaat lain dan

bisa digunakan untuk kegiatan sehari-hari maupun indoor fitness, sekaligus berfungsi sebagai track band. Sementara, jam tangan Garmin lebih saya pakai dalam aktivitas outdoor dan saat ada race,” papar Haryadi.

Dia menginformasikan di bulan Maret 2018 akan hadir koleksi baru Ionic Fitbit, kombinasi jam tangan untuk kegiatan indoor maupun outdoor. “Namun, aktivitas outdoor-nya bukan yang bersifat challenging seperti kegiatan atlet, tapi lebih ke multi sport kategori amatir. Kehadiran varian baru ini akan melengkapi maupun menyemangati kegiatan olahraga untuk para pria dan
wanita. Mengingat olahraga sudah menjadi kebutuhan hidup banyak orang,” tambahnya.

LEAVE A REPLY