Ernanda Putra dengan “PRESSURE IS GOOD FOR YOU” di Dunia Visual Kreatif

0
392
views

INSPIRASI PAVIDASK – Sebagian orang punya kecenderungan dan orientasi lebih pada visual. Mereka berpikir dan berbicara lebih dominan dalam gambar, dan sungguh-sungguh menghargai citra visual yang bagus. Ernanda Putra bisa dibilang salah satunya.

Ernanda, desainer grafis yang juga pendiri dan Creative Director dari Makna Creative, sebuah perusahaan jasa kreatif seni dan desain berbasis di Jakarta, mengaku sebagai pribadi yang ‘sangat visual’. Ia senantiasa mengapresiasi serta berusaha mencipta visual yang bagus, melalui medium fotografi dan grafis yang disukainya. Tak hanya itu, Ernanda pun dikenal sebagai salah satu sosok populer Instagram alias ‘seleb-gram’ di Indonesia, lewat akun Instagram pribadinya @ernandaputra, yang memajang galeri foto terkonsep apik.

Dalam sebuah perbincangan dengan Hitsss, Ernanda berbagi tentang perjalanan kariernya di dunia visual kreatif. Ternyata Ernanda yang menempuh studi Desain Grafis di Universitas Bina Nusantara, kala memasuki tahun kedua di tahun 2004, sudah mulai menjajaki profesi sebagai desainer grafis in-house bersama sang dosen. “Bangga rasanya di usia semuda itu, saya sudah memiliki pekerjaan tetap sebagai desainer grafis,” ungkap Ernanda kepada Hitsss, kala ditemui di kantor Makna Creative, Southbox, Jakarta Selatan.

Dua setengah tahun Ernanda belajar dan mulai mengumpulkan karya, saat bekerja bersama sang dosen. Hingga pertengahan tahun 2007, Ernanda mulai masuk ke perusahaan agensi periklanan, Neo Indonesia. Setelahnya, peluang lain kembali menghampiri dirinya. Ia mendapatkan kesempatan untuk mengajar Desain Grafis di Universitas Pelita Harapan. “Keseharian saya banyak disibukkan dengan mengajar dan mengerjakan proyek-proyek desain lepas yang tidak terlalu besar,” cerita Ernanda.

Satu tahun mengajar, Ernanda pun berpindah labuhan ke perusahaan desain, Octovate, pada tahun 2010. Hingga ia bertemu dengan Teddy Aang, salah satu penggagas Fullfill Artplication. “Saya digaet untuk memimpin tim kreatif di Fullfill. Saya pun menyambutnya dengan tangan terbuka, karena mungkin saat itulah cita-cita yang saya impikan telah datang,” ungkap Ernanda.

Kisah akun @enandaputra

Sebagai seorang desainer grafis, Ern     anda kerap tidak bisa lepas dari mencipta karya dan menggali kreativitas. Menjadi salah satu dari tiga pimpinan FullFill, membuat penghasilan yang diperoleh Nanda semakin meningkat, dengan sistem ‘bagi hasil’ dengan kedua rekanannya tersebut. Di sisi lain, di dunia digital, Nanda pun mulai ‘berkeliaran’ di Instagram.

Pada akun Instagram-nya, berbagai hal menarik dapat dijumpai melalui foto-foto yang diunggahnya. Pengikutnya hingga kini sudah mencapai angka 536.000. Ernanda bisa dibilang salah satu pengguna Instagram sejak awal, dan ia sudah rajin mem-posting foto-foto ke Instagram menggunakan ponselnya, sejak tahun 2010.

“Sangat sedikit waktu itu orang Indonesia yang sudah punya akun Instagram. Foto-foto di dalam akun saya sejak awal memang saya rancang sedemikian rupa sehingga bagus untuk dilihat saya dan pengikut saya. Tiba-tiba, saya di-suggest oleh Instagram kepada pengguna akun lainnya. Saya pun di-follow oleh akun @instagram dan sempat di-featured oleh akun tersebut,” ungkap Ernanda dengan nada bangga.

Ernanda mengemukakan, saat dirinya di-featured di akun @instagram dan blog Instagram, aplikasi tersebut menyatakan bahwa Ernanda adalah orang Indonesia pertama yang di-featured dan di-follow oleh akun @instagram. “Sejak saat itu, pengikut saya bertambah dengan sendirinya, minimal 100 pengikut baru per harinya,” tambahnya lagi.

Instagram juga populer dengan kampanye World Wide Insta-Meet (WWIM), yang dilakukan seluruh warga dunia yang memiliki akun Instagram. Ia pun berpikir, selama ini pengikut akun Instagram-nya yang telah mencapai angka 50 ribu, tak pernah ia temui secara langsung. Hanya berinteraksi melalui kolom komentar Instagram. Lantas, ia pun menciptakan sendiri WWIM versi dirinya, bersama 20 orang di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

“Kami bertemu dan saling berkenalan. Dilanjutkan dengan berbagai macam obrolan dan tentu saja hunting foto bersama,” ujar Ernanda, mengenang momen bersejarah tersebut. Bahkan ia pun ketagihan membuat Instameet lagi, yang kemudian ia gelar lagi di tahun selanjutnya. Bromo menjadi destinasi pilihan.

“Lokasinya harus bagus, supaya foto-foto yang kami ambill untuk di-posting di Instagram pun juga bagus. Tiga hari dua malam kami melangsungkan Instameet tersebut bersama 22 orang peserta dari berbagai daerah, mulai dari Jakarta, Kalimantan, Surabaya, Sumatera, Bandung, dan lainnya,” ungkap Ernanda.

Tak disangka-sangka, Instagram merespons aktivitas Ernanda bersama pengikutnya tersebut. Ia mendapati sebuah surat elektronik dari tim Instagram, yang meminta Ernanda untuk menceritakan bagaimana ia menerbangkan banyak orang untuk melakukan Instameet di Bromo.

“Saya ceritakan semuanya tanpa berharap apapun dari Instagram. Ternyata cerita tersebut di-featured di akun @instagram dan blog mereka. Sunggu bangga rasanya, karena membawa nama Indonesia di dalamnya,” ungkap Ernanda.

Kala pergi ke Bromo untuk melangsungkan Instameet, Nanda pun sempat membeli kamera pertama kalinya, yaitu Fujifilm X-100. “Dengan bangga, saya memotret kamera tersebut dan menggunggahnya ke akun Instagram saya. Pada masa itu, belum populer istilah endorsement, jadi rasanya lebih bebas untuk mem-posting apapun ke akun Instagram. Apapun yang saya kenakan dan saya suka, pasti akan saya posting,” papar Ernanda.

Lagi-lagi hal mengejutkan datang, Ernanda pun dikontak oleh Brand Manager FujiFilm, yang ingin meng-endorse dirinya untuk meningkatkan brand awareness Fujifilm. “Selama satu tahun saya dikontrak oleh FujiFilm dan diendorse untuk menggunakan beberapa produk mereka. Tentu saja hal ini membuat saya sangat bangga,” cerita Ernanda.

Namun dalam hal endorsement, ia merasa perlu melakukan sesuatu yang lebih lagi. Hingga ia pun membuat sebuah kampanye bertajuk Fuji Walk, seminar dan hunting foto bersama para peserta. “Saat ini saya lebih memilih untuk berkolaborasi, dengan begitu saya dan klien dapat membuat materi bersama-sama,” tambanya.

Sejak momen berkesan bersama FujiFilm tersebut, ia melihat peluang bisnis yang ada bagi kreator konten. Maka ia pun ingin mencoba menerapkannya terhadap tempat ia bekerja. “Namun saat saya mengajukan konsep tersebut, sepertinya kantor saya belum siap untuk mengaplikasikan ide tersebut. Di sisi lain, peluangnya sangat besar dan saya sendiri sudah membuktikannya,” ungkapnya.

Tahun 2013, ia pun memberanikan diri untuk meninggalkan pekerjaan kantoran, dan mulai memberanikan diri mengepakkan sayap sendiri. “Saat itu, saya teringat akan sebuah nama yang selama ini saya simpan, untuk saya gunakan di waktu yang tepat,” kata Ernanda.

 

Lahirnya Makna Creative

Ernanda kemudian memulai kehidupan barunya dengan bekerja mandiri, dengan ‘berkantor’ di rumah atau berpindah dari satu kafe ke kafe lainnya. Sampai kemudian bulan Februari 2014, ia mencetuskan Makna Creative, dengan berkolaborasi bersama Keenan Pearce.

“Saat awal berdiri, saya belum memutuskan untuk memiliki kantor khusus Makna Creative. Tetiba Keenan datang kepada saya dan membawa proyek dari Batik Air yang akan rilis, sebagai salah satu maskapai penerbangan di Indonesia,” jelas Ernanda. Ia pun keluar dengan ide kampanye media sosial #BatikJelajahNusantara, yang menerbangkannya dan Keenan ke Bunaken (Manado), Bromo (Yogyakarta), dan Tanjung Bira (Makassar).

“Sejak saat itu, proyek dan kerjaan lainnya datang tak henti-henti kepada Makna Creative. Seperti proyek dari pariwisata Western Australia dan sebuah grup hotel ternama asal Amerika Serikat,” katanya. Mengenai perjalanan Ernanda ke Amerika Serikat, ia pun mendapatkan proyek endorsement dari Starwood Hotels & Resort Worldwide, untuk terbang ke San Diego, Amerika Serikat, dan menginap di The US Grant Hotel.

“Yang membuat saya semakin merasa beruntung, saya diperbolehkan mengajak serta istri saya, karena saat itu kami baru menikah, dengan seluruh biaya, baik transportasi dan akomodasi ditanggung penyelenggara,” tambah Ernanda lagi. Kampanye bertajuk Global Explore tersebut tidak hanya melibatkan Ernanda dari Indonesia, melainkan juga Instagrammers lain yang diterbangkan ke negara lainnya.

Kini tengah disibukkan dengan proyek kampanya media sosial Telkomsel #GoDiscover dan salah satu maskapai penerbangan terbaru, Kalstar, serta proyek-proyek pemasaran kafe, Ernanda mengungkapkan bahwa kini ia sedang fokus membenahi kantor yang baru ia tempati selama tiga minggu, serta merekrut desainer untuk bekerja di Makna Creative.

Makna Creative sendiri diimpikan Ernanda untuk berkembang sebagai sebuah perusahaan kreatif, yang memiliki sedikit pegawai namun memegang proyek dengan value tinggi. “Begitulah yang saya idamkan, tidak terlalu banyak pegawai. Namun, saya ingin membesarkan Makna Creative hingga ke mancanegara. Tim yang kecil ini ada di negara manapun,” harap Ernanda. (KA)

sumber : www.hitsss.com

LEAVE A REPLY